Oleh : Hj. Rohani S. Pd/HaniRosa/Umi Oca
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas masyarakat Kota Bima, persoalan sampah anorganik seperti plastik, kaca, dan logam semakin mendesak untuk ditangani secara serius. Tumpukan sampah yang sebelumnya dianggap sebagai beban, sesungguhnya dapat diubah menjadi sumber daya bernilai jika dikelola dengan strategi yang tepat dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Solusi pertama dimulai dari kesadaran rumah tangga. Setiap warga perlu membiasakan diri memilah sampah sejak dari sumbernya. Sampah anorganik dipisahkan dari sampah organik, kemudian dibersihkan agar memiliki nilai jual. Kebiasaan sederhana ini akan mempermudah proses pengolahan lanjutan serta mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Langkah berikutnya adalah penguatan peran bank sampah di setiap kelurahan. Bank sampah bukan sekadar tempat menabung sampah, tetapi juga pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Dengan sistem insentif berupa tabungan atau penukaran kebutuhan pokok, masyarakat akan lebih termotivasi untuk mengumpulkan sampah anorganik secara rutin. Selain itu, bank sampah dapat bekerja sama dengan pelaku industri daur ulang untuk memastikan sampah yang terkumpul benar-benar diolah kembali.
Inovasi kreatif juga menjadi kunci penting. Sampah plastik, misalnya, dapat diolah menjadi kerajinan tangan seperti tas, pot bunga, hingga dekorasi rumah yang memiliki nilai ekonomi.
Sekolah-sekolah di Kota Bima dapat menjadi pelopor gerakan ini dengan memasukkan program daur ulang dalam kegiatan ekstrakurikuler, sehingga generasi muda tumbuh dengan kesadaran lingkungan yang kuat.
Pemerintah daerah juga memegang peran strategis melalui kebijakan yang mendukung pengurangan sampah, seperti pembatasan penggunaan plastik sekali pakai dan penyediaan fasilitas pengolahan sampah terpadu. Kolaborasi dengan komunitas lokal dan pelaku usaha akan mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Dengan sinergi antara masyarakat, sekolah, dan pemerintah, sampah anorganik di Kota Bima tidak lagi menjadi masalah, melainkan peluang. Dari tangan-tangan kreatif dan kesadaran kolektif, kota ini dapat bertransformasi menjadi lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif. (***)
Penulis artikel ini, adalah anggota Pengawas Pendidikan Kota Bima.

COMMENTS