![]() |
| Bak dan Kantong Jaring Sampah hasil karya (inovasi) SDN 3 Jatiwangi. |
![]() |
| Nampak guru hebat asal SDN 3 Jatiwangi sedang merakit Bak dan Kantong Jaring Sampah. |
Latar
Belakang
Sampah merupakan salah satu permasalahan
lingkungan yang sering dijumpai di lingkungan sekolah. Aktivitas warga sekolah
setiap hari menghasilkan berbagai jenis sampah, seperti sampah daun, sisa
makanan, kertas, botol plastik, gelas plastik, bungkus makanan, dan jenis
sampah lainnya. Apabila sampah tersebut tidak dikelola dengan baik dan tidak
dipilah berdasarkan jenisnya, maka dapat menimbulkan lingkungan yang kotor,
bau, tidak sehat, serta mengurangi kenyamanan dalam proses pembelajaran.
Permasalahan yang sering terjadi adalah masih
adanya peserta didik yang membuang sampah tidak pada tempatnya atau
mencampurkan sampah organik dan nonorganik dalam satu wadah. Kondisi tersebut
menyebabkan sampah menjadi sulit untuk dikelola dan dimanfaatkan kembali.
Sampah organik yang sebenarnya dapat diolah menjadi kompos tercampur dengan
sampah nonorganik, sedangkan sampah nonorganik yang masih memiliki nilai guna
atau nilai jual menjadi sulit untuk dipilah dan dimanfaatkan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, SDN 3
Jatiwangi Kota Bima mengembangkan inovasi BKJS
(Bak dan Kantong Jaring Sampah). Inovasi ini merupakan sistem pengelolaan
sampah sederhana berbasis pemilahan berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik
dan sampah nonorganik. Sampah organik dikumpulkan pada bak sampah untuk
selanjutnya dikelola dan dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kompos. Sementara
itu, sampah nonorganik dikumpulkan pada kantong jaring agar mudah dipilah,
dikumpulkan, dimanfaatkan untuk kegiatan kerajinan, atau disalurkan untuk
didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi.
Unsur kebaruan dalam inovasi BKJS terletak
pada pemanfaatan sarana sederhana berupa kombinasi bak sampah dan kantong
jaring yang secara langsung membentuk sistem pemilahan sampah di lingkungan
sekolah. Melalui sistem ini, peserta didik tidak hanya diberikan pengetahuan
tentang jenis-jenis sampah, tetapi juga dilatih secara langsung untuk membuang
dan mengelola sampah sesuai dengan jenisnya.
Pelaksanaan inovasi BKJS dilakukan melalui
pembiasaan yang melibatkan seluruh warga sekolah. Peserta didik diarahkan untuk
mengenali perbedaan sampah organik dan nonorganik, membuang sampah sesuai
tempatnya, serta berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Guru berperan sebagai pendamping dan teladan, sedangkan sekolah menyediakan
sarana pendukung serta melakukan pemantauan secara berkelanjutan.
Melalui inovasi BKJS, pengelolaan sampah di
sekolah diharapkan menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Sampah
tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, tetapi dapat
dikelola dan dimanfaatkan sesuai dengan jenisnya. Sampah organik dapat menjadi
bahan kompos, sedangkan sampah nonorganik dapat dimanfaatkan sebagai bahan
kerajinan atau memiliki nilai ekonomi.
Dengan demikian, inovasi BKJS tidak hanya
bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, indah, dan
asri, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter dan pembelajaran
kontekstual bagi peserta didik. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara
konsisten, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi generasi yang peduli
terhadap lingkungan, bertanggung jawab, disiplin, dan mampu menerapkan perilaku
hidup bersih dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan
Kegiatan
Adapun tujuan dari inovasi BKJS (Bak dan
Kantong Jaring Sampah) adalah :
1.
Membiasakan
peserta didik membuang sampah pada tempatnya sesuai dengan jenis sampah.
2.
Meningkatkan
kesadaran peserta didik terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian
lingkungan.
3.
Membiasakan
warga sekolah melakukan pemilahan sampah organik dan nonorganik.
4.
Menciptakan
lingkungan sekolah yang bersih, sehat, indah, dan asri.
5.
Mengurangi
kebiasaan membuang sampah sembarangan di lingkungan sekolah.
6.
Meningkatkan
efektivitas dan efisiensi pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
7.
Mengoptimalkan
pemanfaatan sampah organik sebagai bahan pembuatan kompos.
8.
Mengoptimalkan
pemanfaatan sampah non-organik untuk kegiatan kerajinan, daur ulang, dan
kegiatan yang memiliki nilai ekonomi.
9.
Menanamkan
karakter disiplin, tanggung jawab, gotong royong, dan peduli lingkungan kepada
peserta didik.
10. Mewujudkan budaya
sekolah yang mendukung penerapan gaya hidup berkelanjutan.
11. Menjadikan kegiatan
pemilahan dan pengelolaan sampah sebagai bagian dari pembelajaran
kontekstual.
12. Membangun sistem
pengelolaan sampah sekolah yang sederhana, murah, mudah diterapkan, dan
berkelanjutan.
Manfaat
1.
Bagi
Peserta Didik
· Membiasakan
peserta didik membuang sampah sesuai jenisnya.
· Meningkatkan pengetahuan tentang perbedaan sampah
organik dan nonorganik.
· Menumbuhkan
kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
· Melatih
kedisiplinan dan tanggung jawab.
· Menumbuhkan
sikap gotong royong dan kerja sama.
· Meningkatkan
keterampilan dalam memilah dan mengelola sampah.
· Mendorong peserta didik untuk menerapkan
perilaku hidup bersih dan berkelanjutan.
2.
Bagi
Guru
· Memudahkan
guru dalam membiasakan peserta didik berperilaku peduli lingkungan.
· Menjadi
sarana pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
· Meningkatkan
kreativitas guru dalam mengembangkan pembelajaran berbasis lingkungan.
· Mendorong
guru menjadi teladan dalam pengelolaan sampah.
Mendukung pelaksanaan
pendidikan karakter dan penguatan profil lulusan.
3.
Bagi
Sekolah
Mewujudkan lingkungan
sekolah yang bersih, sehat, indah, dan asri.
· Mengurangi
jumlah sampah yang tercampur dan tidak terkelola.
· Meningkatkan
efektivitas pengelolaan sampah sekolah.
· Menghasilkan
sampah organik yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos.
· Menghasilkan
sampah nonorganik yang dapat dimanfaatkan untuk kerajinan atau didaur
ulang.
· Membangun
budaya sekolah yang peduli terhadap lingkungan.
· Menjadi
contoh inovasi pengelolaan sampah yang sederhana, murah, dan mudah direplikasi.
4.
Bagi
Orang Tua dan Masyarakat
· Meningkatkan
kesadaran tentang pentingnya pemilahan sampah sejak dini.
· Mendorong
penerapan kebiasaan memilah sampah di rumah.
· Meningkatkan
keterlibatan orang tua dalam membentuk karakter peduli lingkungan.
· Mendorong
terciptanya lingkungan masyarakat yang lebih bersih dan sehat.
· Menjadi
contoh praktik pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di lingkungan keluarga
dan masyarakat.
Time
Schedule
Daftar
Pustaka
Departemen
Pendidikan Nasional. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Republik
Indonesia. (2008). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah.
Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Kebijakan
Penguatan Pendidikan Karakter dan Profil Pelajar Pancasila.
Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Kebijakan
dan Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.
inovasi Bak dan kantong jaring sampah ini
sudah di uji coba pada Tanggal 05-04-2025,
penerapan pada Tanggal 07-05-2025. (***)



COMMENTS