![]() |
| Foto siswa saat menyapu ruang kelas. |
Penulis : Sukardin, S. Pd (Guru SMP Negeri 15 Kota Bima.
Di siang yang terik itu, bel pulang berbunyi seperti biasa. Anak-anak berhamburan keluar kelas, bersorak kecil menyambut kebebasan setelah seharian belajar. Namun saya tetap duduk di kursi, memeriksa lembar-lembar pekerjaan siswa yang baru saja mereka kumpulkan.
Suasana mulai lengang. Hanya suara desir angin yang berderit pelan menemani, yang menggoyangkan tanaman jagung tepat di samping dan belakang ruang kelas.
Terlalu larut dalam pekerjaan, saya tak menyadari waktu berjalan.
Hingga tiba-tiba, di sela sunyi yang ganjil, terdengar isak tangis lirih. Samar, tertahan, seperti seseorang berusaha kuat namun tak mampu lagi membendungnya.
Bulu kuduk saya sempat meremang. Ini masih siang. Tak mungkin ada yang aneh-aneh. Meski Sekolah ini terkenal angker. Saya pun mencari asal suara itu.
Di sudut kelas, seorang siswi berdiri dengan sapu di tangannya. Ia menyapu pelan, bahunya naik turun menahan tangis. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi lantai yang hendak ia bersihkan.
Sebelum saya sempat bertanya, ia lebih dulu bicara di sela sesenggukan.
“Pak… saya kangen bapak…”
Kalimat itu sederhana, tapi suaranya patah. Seolah setiap huruf harus ia tarik dari dadanya yang sesak.
Ia meminta izin untuk tidak masuk sekolah esok hari. Ia ingin menjenguk ayahnya. Saya mengangguk, menahan banyak tanya. Saya sarankan ia mengurus izin ke wali kelas dan guru BK.
Namun rasa penasaran atau mungkin rasa peduli mendorong saya bertanya pelan,
“Bapakmu sakit apa?”
Ia menggeleng, tangisnya makin pecah.
“Bapak saya nggak sakit, Pak…”
Lalu kalimat berikutnya terasa seperti palu yang menghantam dada saya.
“Saya mau menjenguk bapak di penjara.”
Saya terdiam.
“Kasus apa?” tanya saya pelan.
“Narkoba, Pak… Tapi bapak saya orangnya baik. Bapak sayang sekali sama saya…”
Kalimat itu ia ucapkan dengan keyakinan seorang anak yang masih memegang erat bayangan ayahnya. Ayah yang memeluknya, yang mungkin dulu mengantarnya ke sekolah, yang kini terkurung di balik jeruji.
Di mata anak itu, ayahnya tetap sosok yang hangat. Dunia boleh memberi cap buruk, tapi hatinya tak pernah menghapus rasa sayangnya.
Saat itu saya sadar, narkoba bukan hanya merenggut kebebasan mereka yang terjerat langsung. Ia mencuri masa depan. Ia merobek harga diri, memisahkan pelukan. Ia memaksa seorang anak menyapu kelas sambil menahan rindu yang tak tahu harus ditumpahkan ke mana.
Jeruji besi mungkin mengurung seorang ayah. Tapi luka itu mengurung hati seorang anak.
Semoga mereka yang masih bermain-main dengan barang haram itu mau berhenti sejenak. Mau melihat bukan hanya pada keuntungan, kesenangan, atau nafsu sesaat tetapi pada air mata yang jatuh diam-diam dari orang-orang yang mencintai mereka.
Semoga masih ada pintu insaf yang terbuka.
Sebelum terlalu banyak anak yang belajar tentang kehilangan. terlalu dini. (***)
Artikel ini dirilis diakun Facebook resminya penulis "Ardin Angindai" pada Sabtu (21/02/2026).

COMMENTS