![]() |
| Foto : Penulis. |
Author : Haryanto, S. Pd.I,. M. Pd
(Bagian Kesra Setda Kabupaten Bima)
Perbedaan cara memanfaatkan hari libur antar generasi kini semakin terlihat jelas, bahkan mencolok. Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan zaman, tetapi juga oleh nilai, lingkungan, dan teknologi yang mengitarinya.
Generasi milenial, yang tumbuh di era keterbatasan teknologi, cenderung mengisi hari libur dengan aktivitas yang bersifat produktif dan sosial. Hari Ahad bukan sekadar waktu istirahat, tetapi juga momen untuk membantu orang tua, membersihkan rumah, mencuci, hingga bekerja di kebun atau sawah. Aktivitas ini bukan hanya rutinitas, melainkan bagian dari pembentukan karakter: disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap keluarga.
Berbeda dengan itu, Generasi Z mulai mengalami pergeseran pola. Mereka berada di masa transisi, di mana teknologi mulai berkembang pesat namun belum sepenuhnya mendominasi kehidupan. Hari libur bagi Generasi Z sering kali diisi dengan kombinasi aktivitas, sebagian masih produktif dan sosial, tetapi sebagian lainnya mulai beralih ke dunia digital, seperti bermain media sosial, menonton hiburan, atau berkumpul di luar rumah (nongkrong dan kuliner). Nilai kebersamaan masih ada, tetapi mulai bergeser bentuknya.
Sementara itu, Generasi Alfa menunjukkan perubahan yang paling signifikan. Lahir di tengah dunia yang sepenuhnya digital, mereka menjadikan gadget sebagai bagian utama dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat hari libur. Waktu dari Sabtu hingga Minggu sering dihabiskan untuk bermain game online, menonton video, dan mengakses berbagai konten digital. Aktivitas fisik, interaksi langsung dengan keluarga, serta keterlibatan dalam pekerjaan rumah semakin berkurang. Ketergantungan ini, jika tidak dikendalikan, berpotensi membentuk pola hidup yang pasif dan kurang bertanggung jawab.
Perbedaan ini menegaskan satu hal penting: semakin maju teknologi, semakin besar pula tantangan dalam membentuk karakter anak. Oleh karena itu, peran orang tua menjadi semakin krusial, khususnya dalam perspektif pendidikan Islam.
Dalam Islam, orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak. Mereka bertanggung jawab tidak hanya dalam aspek duniawi, tetapi juga dalam pembentukan akhlak dan spiritualitas. Di tengah derasnya arus digital, orang tua dituntut untuk lebih aktif, bukan sekadar mengawasi, tetapi juga mengarahkan.
Pertama, orang tua perlu menetapkan batasan yang tegas dalam penggunaan gadget. Prinsip keseimbangan (*tawazun*) dalam Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu harus dilakukan secara proporsional. Anak perlu memahami bahwa teknologi adalah sarana, bukan pusat kehidupan.
Kedua, orang tua harus membiasakan anak untuk tetap produktif di hari libur. Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah, aktivitas fisik, dan tanggung jawab keluarga adalah bagian penting dalam membentuk karakter disiplin dan mandiri.
Ketiga, penting bagi orang tua untuk mengarahkan anak pada aktivitas yang bernilai ibadah dan kebaikan. Mengisi waktu libur dengan membaca Al-Qur’an, mengikuti kegiatan keagamaan, atau aktivitas sosial akan menanamkan kesadaran bahwa waktu adalah amanah yang harus dimanfaatkan dengan baik.
Keempat, orang tua harus menjadi teladan. Anak akan meniru apa yang mereka lihat. Ketika orang tua mampu mengelola waktu, bijak menggunakan teknologi, dan konsisten dalam menjalankan nilai-nilai Islam, maka anak pun akan mengikuti pola tersebut.
Selain keluarga, peran masjid dan lembaga pendidikan Islam juga tidak kalah penting. Kegiatan keagamaan yang menarik dan relevan dengan dunia anak dapat menjadi alternatif positif dalam mengisi waktu libur, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dan pengendalian diri.
Pada akhirnya, perbedaan cara generasi dalam mengisi hari libur adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Namun, arah dan dampaknya sangat bergantung pada bagaimana orang tua membimbing anak. Hari libur seharusnya tidak hanya menjadi waktu untuk bersantai di depan layar, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, penanaman nilai, dan penguatan hubungan keluarga.
Dengan bimbingan yang tepat dan berlandaskan nilai-nilai Islam, Generasi Alfa tidak hanya akan tumbuh sebagai generasi yang melek teknologi, tetapi juga sebagai pribadi yang berakhlak, disiplin, dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan. (***)
Wallahu 'alam

COMMENTS