Diduga puluhan santri laki-laki dari salah satu Pondok Pesantren di Desa Cenggu Kecamatan Belo Kabupaten Bima menjadi korban pelecehan seksual. Dimana terduga pelakunya adalah pimpinan ponpes itu sendiri berinisial RS (50) dan seorang guru pengajar berinisial SY (46).
Tercatat sebanyak 10 orang korban rata-rata mengalami kekerasan seksual saat duduk di bangku kKelas 2 SMP. Bentuk pelecehan yang mereka alami bervariasi, mulai dari perabaan pada bagian vital hingga pencabulan yang dilakukan oleh RS dan SY.
Aksi ini diduga dilakukan saat para santri tertidur pulas setelah seharian mengikuti kegiatan di ponpes. Ketika korban melawan dalam posisi tidur, pelaku tetap menarik dan melanjutkan perbuatannya.
Kasus ini diduga sudah berlangsung lama dan jumlah korbannya tidak sedikit. Namun tidak ada santri yang berani melapor karena pelaku adalah pimpinan dan guru di tempat mereka menuntut ilmu. Kasus ini akhirnya terungkap setelah salah satu santri berani bercerita kepada orang tuanya, lalu ditindaklanjuti secara hukum. Kini RS yang bertempat tinggal di lingkungan ponpes, sedangkan SY berasal dari Rasanae Barat Kota Bima (keduanya) sudah diamankan di Polres Bima Kabupaten.
Sehingga, pelajaran kita semua dari kasus tersebut bahwa kepercayaan besar para wali murid (orang tua) yang menitip putra-putrinya di Ponpes harus dibarengi pengawasan yang sama besar. Pasalnya, asrama itu rumah kedua bagi para santri, tapi justru di sanalah celah paling rawan ketika kontrol longgar dan ronda malam cuma formalitas. Sehingga keamanan anak tidak bisa hanya diserahkan ke "nama baik" lembaga, CCTV, sistem kamar, dan jadwal piket harus benar-benar jalan dan hanya sebagai pajangan semata.
Selanjutnya, jangan sampai rasa "sungkan" kepada lembaga yang membuat kita menutup mata, karena ponpes adalah tempat mulia untuk menuntut ilmu, tapi oknum bejat bisa ada di mana saja. Mari mengutuk perbuatan pelaku bukan berarti membenci ponpes. Justru dengan berani mengutuk dan mengawal proses hukum, sama halnya kita sedang menyelamatkan nama baik ribuan ponpes lain yang benar-benar mendidik dengan amanah.
Sementara itu, yang paling terpenting adalah mengajarkan ke anak-anak untuk berani bersuara. Karena kasus di Ponpes ini yang melibatkan 10 korban itu, patut diduga tidak terjadi dalam sehari. jadi kalau dari awal anak-anak (santri) diedukasi soal batasan tubuh, mana sentuhan yang wajar dan mana yang tidak, serta punya orang dewasa yang bisa dipercaya untuk mengadu, mungkin tragedi ini bisa dicegah. Kawal kasusnya sampai tuntas, tapi jangan lupa benahi sistemnya agar tidak ada lagi korban berikutnya. (***)

COMMENTS