![]() |
| Foto penulis artikel (Dedy Rosadi). |
ORASI ILMIAH WISUDA STKIP TAMAN SISWA BIMA
Tentang :
“Menjadi Sarjana Pejuang” Beradab dalam Kehidupan, Tangguh Menghadapi Perubahan, dan Mendunia melalui Karya"
Oleh : Dr. Dedy Rosadi, S. Pd., M. Pd., M. Sc
Dengan penuh rasa hormat, saya menyampaikan terima kasih kepada Ketua STKIP Taman Siswa Bima beserta seluruh jajaran pimpinan yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan orasi ilmiah pada momentum wisuda yang sangat bermakna ini.
Kesempatan ini bukan hanya sebuah kehormatan bagi saya secara pribadi, tetapi juga merupakan amanah untuk berbagi pemikiran, pengalaman, dan pesan kehidupan kepada para wisudawan dan wisudawati yang sebentar lagi akan memasuki perjalanan baru.
Semoga apa yang saya sampaikan dapat menjadi bekal, menumbuhkan semangat, dan menguatkan keyakinan Saudara dalam memperjuangkan masa depan yang membanggakan.
Pada kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan orasi ilmiah dengan tema: “Menjadi Sarjana Pejuang” Beradab dalam Kehidupan, Tangguh Menghadapi Perubahan, dan Mendunia melalui Karya.
Namun, di balik toga itu terdapat kisah yang tidak seluruhnya dapat dibaca oleh orang lain. Ada mahasiswa yang menjalani perkuliahan dengan dukungan fasilitas yang memadai, tetapi ada pula yang belajar dalam berbagai keterbatasan. Ada yang dapat memusatkan perhatian sepenuhnya pada perkuliahan, sementara yang lain harus membagi waktu antara belajar, bekerja, membantu keluarga, dan menghadapi persoalan kehidupan yang tidak ringan.
Oleh karena itu, wisuda bukan sekadar perayaan keberhasilan individual. Wisuda merupakan pertemuan antara perjuangan masa lalu, kebahagiaan hari ini, dan tanggung jawab terhadap masa depan. Setelah toga dilepas, para wisudawan akan memasuki dunia yang bergerak sangat cepat, kompetitif, penuh ketidakpastian, tetapi juga menyediakan banyak kesempatan bagi mereka yang siap belajar dan berjuang.
Para wisudawan dan wisudawati hari ini Saudara telah memperoleh gelar yang diperjuangkan melalui perjalanan panjang. Namun, pertanyaan terpenting bukan hanya : “Gelar apa yang Saudara peroleh hari ini?” Pertanyaan yang lebih penting adalah : “Setelah gelar itu Saudara bawa pulang, karya apa yang akan Saudara hasilkan, manfaat apa yang akan Saudara berikan, dan manusia seperti apa yang akan Saudara hadirkan di tengah masyarakat?”
Sebab, nilai seorang sarjana tidak hanya terlihat dari gelar yang tertulis di belakang namanya, tetapi juga dari cara ia menggunakan ilmu, menjaga karakter, serta menghadirkan manfaat bagi kehidupan orang lain.
Jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu mudah. Setelah meninggalkan kampus, Saudara akan memasuki kehidupan yang sesungguhnya kehidupan yang tidak selalu memberikan soal yang jelas, waktu ujian yang pasti, ataupun jawaban yang tersedia di dalam buku.
Dunia yang akan Saudara hadapi sedang berubah sangat cepat. Lapangan pekerjaan semakin kompetitif, kebutuhan keterampilan terus berkembang, kecerdasan buatan mengubah banyak jenis pekerjaan, dan media digital memengaruhi cara manusia belajar, bekerja, serta memandang dirinya sendiri. Pada saat yang sama, generasi muda juga menghadapi tekanan mental, menurunnya kemampuan untuk fokus, budaya serba instan, dan tuntutan untuk mampu menciptakan peluang serta bersaing pada tingkat global.
Setelah meninggalkan kampus, Saudara akan memasuki dunia yang berbeda. Gelar akademik adalah modal penting, tetapi perjalanan sesungguhnya justru dimulai setelah wisuda. Setidaknya ada enam tantangan utama yang perlu kita pahami dan persiapkan bersama.
Pertama, ketidakpastian memasuki dunia kerja. Memperoleh gelar sarjana tidak selalu berarti segera memperoleh pekerjaan. Persaingan semakin terbuka, sementara kebutuhan dunia kerja terus berubah. Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa hingga tahun 2030 akan tercipta sekitar 170 juta pekerjaan baru, tetapi pada saat yang sama sekitar 92 juta pekerjaan akan tergeser akibat perubahan struktur ekonomi, teknologi, dan dunia kerja (World Economic Forum, 2025).
Artinya, peluang itu ada, tetapi bentuknya terus berubah. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah wisuda. Ijazah menandai selesainya satu jenjang pendidikan, bukan selesainya proses belajar.
Kedua, kesenjangan antara ijazah dan kompetensi. Dunia kerja tidak hanya bertanya, “Apa gelar Saudara?” tetapi semakin menuntut, “Apa yang dapat Saudara kerjakan, masalah apa yang dapat Saudara selesaikan, dan nilai apa yang dapat Saudara berikan
Karena itu, gelar akademik perlu disertai kompetensi nyata: kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi, menggunakan teknologi, dan terus mempelajari hal-hal baru. Ijazah membuka pintu, tetapi kompetensilah yang membuat kita mampu bertahan dan berkembang setelah pintu itu terbuka.
Ketiga, perubahan dunia kerja akibat kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan atau AI sedang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan menyelesaikan masalah. AI dapat membantu mencari informasi, menganalisis data, menghasilkan gagasan, bahkan menyelesaikan berbagai pekerjaan dengan sangat cepat.
Namun, teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Kajian Liu, Sihes, dan Lu (2025) menunjukkan bahwa penggunaan AI memiliki dua sisi: dapat mendukung kemampuan berpikir kritis, tetapi ketergantungan yang berlebihan juga berisiko mendorong pemikiran pasif dan mengurangi kedalaman analisis.
Sejalan dengan itu, Rosadi (2026) menegaskan pentingnya pembelajaran digital yang dirancang secara terstruktur untuk mendukung pemahaman dan keterampilan berpikir kritis. Karena itu, gunakan AI untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan proses berpikir manusia. AI boleh membantu kita menemukan jawaban, tetapi jangan menyerahkan seluruh proses berpikir kita kepada mesin.
Keempat, kecemasan, kesepian, dan krisis jati diri. Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu membuat manusia merasa lebih dekat. WHO (2025) melaporkan bahwa sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dan generasi muda termasuk kelompok yang sangat terdampak. Kajian Ahmed et al. (2024) juga menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media sosial, kesehatan mental, dan kualitas tidur pada generasi muda.
Media sosial membuat kita mudah membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Kita melihat teman sudah bekerja, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, atau mencapai keberhasilan tertentu, kemudian kita merasa tertinggal.
Padahal, yang kita lihat di media sosial sering kali hanya bagian terbaik dari perjalanan seseorang. Karena itu, jangan mengukur seluruh perjalanan hidup Saudara dengan satu potongan kehidupan orang lain. Keberhasilan setiap orang mempunyai jalan dan waktunya sendiri.
Kelima, melemahnya daya juang, menurunnya fokus, dan berkembangnya budaya instan. Teknologi memberi kita kecepatan dan kemudahan. Informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik. Berbagai pekerjaan dapat diselesaikan dengan bantuan teknologi. Tetapi kemudahan juga dapat membentuk kebiasaan ingin memperoleh hasil secara cepat.
Di sinilah tantangannya. Kehidupan nyata tidak selalu menyediakan tombol skip, copy, atau undo. Ada proses yang harus dijalani, kegagalan yang harus dihadapi, dan keberhasilan yang harus diperjuangkan.
Rosadi (2026) menunjukkan pentingnya desain pembelajaran digital yang terstruktur, terarah, dan mendorong keterlibatan berpikir. Pesannya lebih luas bagi kita: teknologi seharusnya membantu manusia belajar lebih baik, bukan membentuk manusia yang kehilangan ketekunan dalam belajar dan berpikir. Karena itu, jangan biarkan kemudahan teknologi menghilangkan daya juang. Gunakan teknologi untuk mempercepat belajar, tetapi jangan menggunakannya untuk menghindari proses.
Keenam, tantangan berwirausaha dan memasuki persaingan global. Saudara tidak harus membatasi masa depan hanya pada pertanyaan, “Di mana saya akan bekerja?” Ada pertanyaan lain yang juga penting: 'Apa yang dapat saya ciptakan? Masalah apa yang dapat saya selesaikan? Dan peluang apa yang dapat saya bangun?”
Di era digital, karya dari Bima dapat dikenal di Jakarta, Singapura, Jepang, bahkan di berbagai belahan dunia. Batas geografis semakin terbuka. Namun, untuk memasuki ruang tersebut dibutuhkan keberanian, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, penguasaan teknologi, jejaring, dan kemauan untuk terus belajar.
Karena itu, jangan hanya mempersiapkan diri menjadi pencari pekerjaan. Persiapkan pula diri menjadi pencipta karya, pembuka peluang, dan pemberi manfaat.
Para wisudawan yang saya banggakan, Enam tantangan tersebut tidak seharusnya membuat kita takut menghadapi masa depan. Justru di situlah pendidikan menemukan maknanya.
Dunia yang berubah membutuhkan sarjana yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab; tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi memiliki iman, nilai, dan integritas; tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi memiliki jiwa wirausaha; serta tidak hanya mampu berdiri di daerah dan bangsanya sendiri, tetapi mempunyai keberanian untuk berkarya dan bersaing di tingkat global.
Inilah yang saya sebut Sarjana Pejuang: sarjana yang memiliki nilai sebagai pegangan, ilmu sebagai kekuatan, teknologi sebagai alat, kerja keras sebagai jalan, dan karya sebagai bukti pengabdiannya.
Enam tantangan yang telah saya uraikan tadi membawa kita pada satu pertanyaan penting: dengan bekal apa seorang sarjana harus menghadapi dunia yang berubah begitu cepat?
Menurut saya, jawabannya bukan hanya dengan menambah pengetahuan. Kita membutuhkan generasi sarjana yang utuh: kuat karakternya, kokoh nilai hidupnya, menguasai teknologi, mampu menciptakan peluang, dan berani memasuki dunia global.
Untuk itulah, saya menawarkan lima pilar Sarjana Pejuang: Beradab, Imtak, Iptek, Wirausaha, dan Go International.
Pertama, Beradab : Pintar Saja Tidak Cukup Di tengah banjir informasi, media sosial, AI, dan perubahan dunia kerja, kecerdasan harus berjalan bersama adab.
Beradab berarti menggunakan ilmu dengan etika, berbicara dengan santun, menghargai perbedaan, menjaga kejujuran, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
UNESCO menempatkan penghormatan terhadap keberagaman, solidaritas, dan kesadaran akan kemanusiaan bersama sebagai prinsip penting dalam pendidikan kewargaan global.
Karena itu, jangan sampai teknologi kita semakin maju, tetapi cara kita memperlakukan manusia justru mundur. Jangan sampai kita hebat menggunakan AI, tetapi kehilangan kejujuran. Jangan sampai kita memiliki banyak pengikut di media sosial, tetapi kehilangan rasa hormat kepada orang tua, guru, dan sesama.
Dunia membutuhkan orang pintar, tetapi lebih dari itu, dunia membutuhkan orang pintar yang dapat dipercaya.
Maka, ketika Saudara kelak menjadi guru, pengusaha, pemimpin, pegawai, profesional, atau apa pun profesinya, bawalah adab ke mana pun Saudara pergi. Sebab ilmu dapat membuat seseorang dihormati, tetapi adablah yang membuat kehormatan itu bermakna.
Kedua, Imtak : Memiliki Kompas dalam Menentukan Arah Saudara sekalian, Perubahan yang sangat cepat tidak hanya membutuhkan kemampuan beradaptasi, tetapi juga pegangan hidup.
Teknologi dapat menunjukkan kepada kita bagaimana melakukan sesuatu, tetapi tidak selalu dapat menentukan untuk apa kita melakukannya. AI dapat memberikan banyak jawaban, tetapi manusialah yang harus menentukan nilai yang mendasari pilihan hidupnya. Di sinilah pentingnya iman dan takwa. Imtak bukan sekadar simbol. Imtak harus hadir dalam kejujuran ketika tidak ada yang melihat, dalam tanggung jawab ketika diberi amanah, dalam kesabaran ketika mengalami kegagalan, serta dalam kerendahan hati ketika memperoleh keberhasilan.
Ketika pekerjaan belum diperoleh, iman menjaga kita agar tidak kehilangan harapan. Ketika berhasil, iman menjaga kita agar tidak kehilangan kerendahan hati. Ketika memiliki kekuasaan, iman mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah.
Karena itu, jadikan iman sebagai akar dan ilmu sebagai cabang. Semakin tinggi Saudara tumbuh, semakin kuat pula akar yang harus Saudara miliki.
Ketiga, Iptek : Jangan Takut kepada Teknologi, Kuasailah TeknologiPara wisudawan yang saya banggakan, Kita tidak dapat menghadapi masa depan dengan kompetensi masa lalu. Future of Jobs Report 2025 menunjukkan bahwa 39 persen keterampilan yang digunakan pekerja diperkirakan berubah atau menjadi kurang relevan pada periode 2025–2030. AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi termasuk keterampilan yang pertumbuhannya paling cepat. Namun, kemampuan manusia seperti berpikir analitis, kreativitas, resiliensi, fleksibilitas, dan kemauan belajar sepanjang hayat juga tetap sangat penting (World Economic Forum, 2025).
Artinya, masa depan bukan sekadar pertarungan antara manusia melawan mesin. Tantangannya adalah bagaimana manusia mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikirnya. UNESCO (2023) menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia dalam pemanfaatan AI, termasuk penggunaan yang etis, aman, bermakna, dan didukung desain pedagogis yang tepat.
Sejalan dengan itu, Rosadi (2026) menunjukkan pentingnya pembelajaran digital yang dirancang secara terstruktur untuk mendukung pemahaman dan keterampilan berpikir kritis.
Maka, jangan takut kepada AI. Pelajari AI. Gunakan AI. Tetapi jangan biarkan AI mengambil alih tanggung jawab Saudara untuk berpikir. Gunakan teknologi untuk belajar lebih cepat, bekerja lebih efektif, menghasilkan karya, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.
Jangan hanya menjadi konsumen teknologi. Berusahalah menjadi manusia yang mampu menciptakan nilai melalui teknologi.
Keempat, Wirausaha : Jangan Hanya Mencari Peluang, Ciptakan Peluang Saudara sekalian, Tidak semua lulusan harus menjadi pengusaha. Tetapi setiap sarjana perlu memiliki jiwa kewirausahaan : berani melihat masalah sebagai peluang, kreatif mencari solusi, berani mencoba, siap belajar dari kegagalan, dan mampu menciptakan nilai. World Economic Forum (2025) menunjukkan bahwa creative thinking, resiliensi, fleksibilitas, dan kelincahan termasuk kemampuan yang semakin penting dalam dunia kerja menuju 2030.
Karena itu, ketika lapangan pekerjaan terbatas, jangan hanya bertanya: “Siapa yang akan menerima saya bekerja?” Beranilah bertanya : “Apa yang dapat saya ciptakan?” Lihatlah persoalan di sekitar kita. Pertanian, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, lingkungan, perikanan, peternakan, dan UMKM semuanya menyimpan persoalan sekaligus peluang. Seorang Sarjana Pejuang tidak hanya membawa lamaran pekerjaan. Ia membawa gagasan, keterampilan, kreativitas, dan solusi. Mulailah dari apa yang Saudara miliki. Mulailah dari masalah yang Saudara pahami. Tidak harus langsung besar. Usaha besar sering dimulai dari keberanian kecil untuk mencoba. Dan jangan takut gagal. Kegagalan bukan selalu tanda bahwa perjalanan harus dihentikan. Kadang-kadang kegagalan adalah ruang belajar yang tidak kita dapatkan di dalam kelas.
Kelima, Go International: Berakar di Daerah, Berkarya untuk Dunia Para wisudawan yang saya banggakan, Kita lahir dan dibesarkan di daerah, tetapi mimpi kita tidak boleh dibatasi oleh batas geografis. Hari ini teknologi telah memperpendek jarak. Seseorang dapat belajar dari universitas di negara lain, berkolaborasi dengan orang dari berbagai bangsa, memasarkan produk ke luar negeri, bekerja secara digital, dan memperkenalkan karya lokal kepada masyarakat global.
Namun, Go International bukan berarti meninggalkan identitas kita. Justru kita harus berakar kuat pada budaya dan nilai kita sendiri, tetapi memiliki kompetensi yang mampu berbicara di tingkat dunia. Belajarlah bahasa asing. Tingkatkan kemampuan digital. Bangun jejaring. Ikuti forum ilmiah, kompetisi, pertukaran, pelatihan, dan kolaborasi internasional. Kenalkan karya, budaya, produk, dan potensi daerah kita kepada dunia.
Dunia kerja sendiri semakin menuntut kombinasi keterampilan teknologi dan kemampuan manusia seperti berpikir analitis, kreativitas, kepemimpinan, resiliensi, serta kemampuan belajar sepanjang hayat (World Economic Forum, 2025).
Maka, jangan pernah merasa bahwa berasal dari Bima membuat Saudara jauh dari dunia.Saudara boleh lahir di Bima. Saudara boleh memulai dari Bima. Tetapi karya Saudara dapat menjangkau dunia. Itulah makna Go International yang saya maksud : bukan kehilangan identitas lokal untuk menjadi global, tetapi membawa kekuatan lokal ke panggung global.
Menjadi Sarjana Pejuang Hadirin yang saya hormati, para wisudawan yang saya banggakan, Pada akhirnya, enam tantangan yang kita bicarakan tadi tidak dapat dijawab hanya dengan satu kemampuan. Ketidakpastian dunia kerja membutuhkan daya juang dan kemampuan beradaptasi. Kesenjangan kompetensi membutuhkan kemauan belajar sepanjang hayat. Perubahan akibat AI membutuhkan penguasaan Iptek dan kemampuan berpikir kritis. Kecemasan dan krisis jati diri membutuhkan Imtak dan pegangan nilai.
Budaya instan membutuhkan ketekunan, disiplin, dan adab dalam menggunakan teknologi. Sementara persaingan ekonomi dan global membutuhkan jiwa Wirausaha serta keberanian Go International. Inilah lima pilar yang saya tawarkan kepada Saudara: Beradab agar ilmu memiliki nilai. Imtak agar hidup memiliki arah. Iptek agar mampu menghadapi perubahan. Wirausaha agar mampu menciptakan peluang. Go International agar karya kita menembus batas.
Jika kelima pilar ini tumbuh dalam diri Saudara, maka Saudara tidak sekadar menjadi seorang sarjana.Saudara menjadi Sarjana Pejuang. Sarjana yang tidak mudah menyerah ketika pekerjaan belum datang.
Tidak kehilangan arah ketika teknologi berubah.Tidak kehilangan jati diri ketika dunia menawarkan berbagai pilihan. Tidak hanya bertanya apa yang dapat diberikan negara kepadanya, tetapi juga bertanya apa yang dapat ia berikan kepada masyarakat, bangsa, dan dunia.
Maka setelah hari ini, jangan hanya pulang membawa ijazah. Pulanglah membawa tekad. Tekad untuk tetap beradab. Tekad untuk menjaga iman. Tekad untuk menguasai ilmu dan teknologi. Tekad untuk menciptakan peluang. Dan tekad untuk membawa karya dari Bima menuju dunia.
Jadilah Sarjana Pejuang : berakar pada nilai, tangguh menghadapi perubahan, dan mendunia melalui karya. (***)
Penulis adalah :
Dr. Dedy Rosadi, S. Pd., M. Pd., M. Sc saat ini menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Kota Bima, dan karya ilmiah ini dibacakan pada Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana XXII STKIP Taman Siswa Bima Sabtu (26/09/2026).

COMMENTS