KOTA BIMA, TUPA NEWS.- Dengan terbitnya pemberitaan di media online tentang ada dugaan gejala keracunan pada proses Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (08/10/2025) lalu di SDN 11 Manggemaci Kota Bima. Sedangkan gejalan sakit perut, mencret dan sejenisnya terjadi diluar jam sekolah, tepatnya di lingkungan masyarakat bukan dalam lingkungan sekolah.
Tentu saja dengan pemberitaan tidak berimbang itu akan membuat was-was (Polemik) bagi sekolah setempat. Pasalnya, saat ini SDN 11 Manggemaci memiliki segudang prestasi dan saat ini mendapatkan kepercayaan untuk mewakili Propinsi Nusa Tenggara Barat maupun akan berlaga di Tingkat Nasional. Adapun prestasi tersebut yang akan diraih Tahun 2025 ini, seperti yang diuraikan oleh Kepala SDN 11 Manggemaci Kota Bima Hartuti, S.Pd pada Tupa News sebagai berikut :
1. SDN 11 Manggemaci mewakili Kota Bima dalam penilaian sebagai Kota Adipura,
2. Sebagai Sekolah Pendamping Kota Layak Anak Tingkat Nasional, jejaring BAPEDA, Dinas Perlindungan Anak dll,
3. Sekolah Ramah Anak Tingkat Nasional Jejaringnya Dinas Kesehatan, Dinas Dikpora dan OPD terkait lainnya,
4. Sekolah Adiwiyata Nasional Gerakan Peduli Berbudaya Lingkungan Hidup Sehat (GPBLHS), mewakili Provinsi NTB, yang berkordinasi dengan Dinas DLH, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Pertanian, DPBD, Dinas Kehutanan dll, dan
5. Akreditasi Perpustakaan Tingkat Nasional yang ke-2 kalinya setelah Tahun 2024. Jejaringnya Dinas Perpustakaan, Dikpora dll.
Sementara terkait gejolak tersebut, menurut Kepala SDN 11 Manggemaci Hartuti, S. Pd pada wartawan ini Senin (13/10/2025), mengatakan seperti disekolah lain pada umumnya setiap awal MBG wajib dicicipi dulu oleh Kepala Sekolah setempat. Namun pada Rabu (08/10/2025) itu dirinya mewakili sekolah untuk mengikuti sosialisasi Smart TV di Aula SMPN 6 Kota Bima, sehingga MBG bagi 404 siswanya diawasi oleh guru dan Wali Kelas-nya masing-masing, ujar Tuti sapaan akrab kepsek ini.
Jadi tidak diketemukan adanya penyebab gejala keracunan akibat MBG pada hari Rabu itu dalam lingkungan sekolah. Tapi yang benar adalah seorang Penjaga Sekolah Yunus dan seorang ibu guru lainnya membawa pulang MBG kerumahnya. Untuk Yunus (penjaga sekolah) menyantap makanan MBG tersebut pada pukul 15.00 Wita (Sore) dan salah seorang ibu guru (Inisial S) membagikan MBG pada tetangganya. "MBG yang lebih itu, adalah MBG yang tidak disantap oleh siswa, sehingga dibawah pulang oleh kedua tenaga pendidik ini," jelas Tuti.
Akibatnya, gejala yang disebabkan MBG tersebut sudah pasti mengalami basi, karena disantap pada waktu sore hari. Sehingga anak-anak Yunus maupun tetangga ibu guru "S" mengalami sakit perut, mencret dan sejenisnya sekitar malam hari, tepatnya diwaktu Ba'da Magrib sehingga dirujuk ke Rumah Sakit (RS) terdekat untuk diketahui penyebab medisnya. "Nah, kejadian ini terjadi diluar sekolah dan MBG tersebut tentu tidak layak dikonsumsi pada waktu sore hari, harusnya pagi hingga siang paling telat," beber Tuti.
Kalaupun terjadi di wilayah sekolah, seharusnya setelah disantap, akibat ada bakteri (racun), makan minimal satu jam kemudian ada gejala mual, muntah dan sakit perut hingga mencet di sekolah. Tapi ini kejadiannya diluar sekolah dan malam hari lagi timbul gejala tersebut, apalagi korban ini tidak hanya menyantap MBG saja akan tetapi makanan dan jajan lainnya selama dirumahnya masing-masing.
Menurutnya, berita tidak berimbang itu sangat membuatnya terpukul. Seharusnya media tersebut tahu posisi sekolahnya saat ini ada di posisi persiapan menuju Nasional untuk mengikuti beberapa lomba tersebut. "Sekolah ini merupakan sekolah yang mengharumkan nama Kota Bima dikancah Nasional. Akan tetapi dengan beredarnya berita tersebut akan mengurangi penilaian dari pusat" sesalnya.
Berbuntut dari hal itu, mulai hari ini (Senin, red) guru dan GTK dilarang membawa pulang makanan MBG kerumahnya. Kalaupun ada yang lebih, lebih baik dikembalikan pada pihak pengelola (Dapur), tutupnya. (TN - 01)
COMMENTS