![]() |
| Mami Retno saat menjadi pemateri di SDN 55 Dara tentang inklusif. |
KOTA BIMA, TUPA NEWS.- Komunitas Belajar (Kombel) PADOLO BISA mengelar Bimbingan Teknik (Bimtek) tentang guru dalam strategi pembelajaran penanganan Inklusif Terpadu d SDN 55 Dara Kota Bima di ruang guru setempat pada Rabu (24/12/2025) pagi hingga selesai.
PADOLO BISA merupakan Akronim dari Berpatriot Berbudaya Berkolaborasi, Bersih Indah, Sehat dan Asri.
Dalam pemaparannya narasumber Retno Utami, SE, S. Pd., M. Pd. Kons menjelaskan terkait pembelajaran penanganan Inklusif Terpadu adalah pendekatan pendidikan komprehensif yang mengintegrasikan siswa dengan kebutuhan khusus ke dalam lingkungan belajar umum (kelas reguler) bersama teman sebaya mereka, dengan dukungan dan penyesuaian sistem yang diperlukan untuk memastikan semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang setara untuk berhasil.
Konsep ini berbeda dari pendidikan terpadu (integrasi) yang mengharuskan siswa berkebutuhan khusus untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang sudah ada. Sebaliknya, pendidikan inklusif menuntut adanya penataan ulang dan fleksibilitas dalam sistem pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, dan lingkungan untuk mengakomodasi keragaman kebutuhan semua siswa.
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Bima Drs. H. Mahfud, M. Pd. Sedangkan seorang narasumber (Retno, red) ini bukan berasal dari ASN, bukan pula dari P3K maupun Paru Waktu (PW), tapi yang bersangkutan mampu mendapatkan Sertifikat Mandiri.
Sementara itu, sambutan penutup kegiatan yakni Asnar Karnilita, S. Pd., SD selaku Kepala SDN 55 Dara Kota Bima menyanpaikan bahwa dirinya bercinta-cita sebelum berakhir jabatannya (Purna tugas) sebagai ASN, semoga guru-guru yang belum bersertifikasi khususnya dari kalangan P3K dan PW semuanya bisa mendapatkan sertifikasi dengan adanya jam tambahan untuk mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Masih kata Asnar, terpantau jumlah siswa-siswi khusus ABK di SDN 55 Dara ini sekitar 19 orang, sehingga 2 orang guru yang belum bersertifikasi (P3K) dan PW sebanyak 18 orang ini bisa mendapatkan sertifikasi lewat program inklusif ini, singkat Asnar. (TN - 01)

COMMENTS