![]() |
| Foto Ilustrasi. |
Artikel :
Dalam khazanah budaya Nusantara, sosok Nyi Roro Kidul sering kali dianggap sebagai misteri yang tak terpecahkan. Namun, di balik kemegahan takhta gaibnya di Samudra Hindia, terdapat sebuah narasi kuat dari Timur Indonesia khususnya dari Tanah Mbojo (Bima) yang menyebutkan bahwa sang Ratu memiliki asal-usul manusia sebagai seorang putri bangsawan bernama Siti Aminah.
Asal-Usul Putri dari Kesultanan Bima
Menurut tradisi lisan dan catatan yang tersimpan dalam memori kolektif masyarakat Bima, Siti Aminah adalah seorang putri dari silsilah Kesultanan Bima. Beliau digambarkan sebagai sosok yang memiliki kecantikan luar biasa, kecerdasan tinggi, dan kedalaman ilmu agama serta spiritual. Nama "Siti Aminah" sendiri mencerminkan identitas Islam yang menjadi pilar utama Kesultanan Bima sejak abad ke-17.
Nama Siti Aminah memberikan identitas keislaman yang kuat, mengingat Bima adalah salah satu pusat penyebaran Islam yang penting di wilayah timur Indonesia.
Perjalanan Spiritual dan Transformasi
Legenda mengisahkan bahwa Siti Aminah meninggalkan tanah kelahirannya di Bima untuk menjalani sebuah tugas spiritual atau takdir gaib. Beliau melakukan perjalanan menyeberangi lautan ke arah barat.
Moksa di Pantai Selatan
Setibanya di pesisir selatan Pulau Jawa, Siti Aminah diyakini tidak wafat secara fisik, melainkan mengalami proses "Moksa" (transformasi ke alam gaib).
Menjadi Penguasa
Dalam wujud barunya, beliau dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai Nyi Roro Kidul. Di kalangan spiritualis tertentu, nama "Siti Aminah" tetap digunakan sebagai nama asli atau nama batin untuk berkomunikasi dengan sosok sang Ratu secara lebih personal dan Islami.
Dikisahkan bahwa karena suatu alasan (seringkali disebut sebagai tugas spiritual atau takdir gaib), Siti Aminah melakukan perjalanan jauh meninggalkan Pulau Sumbawa menuju Pulau Jawa. Setibanya di pesisir selatan Jawa, Siti Aminah dipercaya melakukan "moksa" atau bertransformasi menjadi penguasa alam gaib laut selatan yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat Jawa sebagai Nyi Roro Kidul
Karena kisahnya berkembang melalui tradisi lisan dan spiritual, penggambaran Siti Aminah sering kali menyatu dengan citra Nyi Roro Kidul, yaitu sosok wanita bangsawan yang anggun, mengenakan busana tradisional (sering kali berwarna hijau), dan memiliki aura kepemimpinan serta kecantikan yang luar biasa.
Masyarakat di Bima memiliki sejarah maritim yang sangat kuat, sehingga tokoh-tokoh sakti dari Bima sering kali muncul dalam legenda-legenda di daerah lain. Secara tradisional, diyakini ada "jalur gaib" atau hubungan spiritual yang menghubungkan Laut Selatan Jawa dengan perairan di sekitar Pulau Sumbawa (Bima).
Secara antropologis, keterkaitan ini menunjukkan hubungan erat antara Kesultanan Bima dan Mataram Islam di masa lalu.
Bima adalah pusat kekuatan maritim dan Islam di wilayah timur. Banyak ulama dan bangsawan Bima yang menjalin hubungan diplomatik atau pernikahan dengan keraton-keraton di Jawa.
Klaim bahwa Nyi Roro Kidul berasal dari Bima bisa jadi merupakan cara untuk menegaskan bahwa kekuasaan laut tersebut juga memiliki akar atau "restu" dari tokoh-tokoh besar dari wilayah timur (Bima).
Meskipun tidak ada "makam" fisik (karena beliau diyakini tidak wafat secara normal melainkan "hilang" atau bertransformasi), ada beberapa lokasi di Bima yang sering dikaitkan dengan jejak Siti Aminah :
1. Di Pantai Lariti atau wilayah Sape, sering ada cerita tentang "kepergian" seorang putri bangsawan yang menyeberangi lautan. Masyarakat lokal percaya bahwa jalur laut ini memiliki koneksi spiritual langsung dengan Samudra Hindia di selatan Jawa.
2. Di lingkungan kerabat Kesultanan Bima, nama Siti Aminah terkadang muncul dalam silsilah lisan sebagai putri yang "digaibkan" atau memiliki tugas khusus di luar tanah Bima.
Ada dua versi utama mengapa Siti Aminah meninggalkan Bima menuju Jawa :
Versi Penolakan :
Beliau menolak perjodohan politik di Bima dan memilih untuk mengasingkan diri demi menjaga kesucian dan ketaatannya, hingga akhirnya "ditarik" oleh alam gaib ke pantai selatan Jawa.
Versi Penjagaan :
Beliau dikirim secara spiritual untuk menjadi penghubung atau "penjaga" hubungan antara kerajaan-kerajaan di Jawa (seperti Mataram) dengan wilayah Timur (Bima).
Mengapa Nama Siti Aminah Sangat Penting?
Nama ini menjadi kunci bagi para peziarah atau praktisi spiritual yang datang dari luar Jawa.
Identitas Islam:
Penggunaan nama "Siti Aminah" menegaskan bahwa penguasa laut selatan bukanlah entitas "asing", melainkan memiliki akar sejarah dari Kesultanan Islam di Bima.
Penghormatan Khusus:
Di beberapa kamar khusus (seperti Kamar 308 di Pelabuhan Ratu), mereka yang memiliki garis keturunan atau kedekatan dengan Bima seringkali menyebut nama Siti Aminah sebagai bentuk penghormatan kepada asal-usul beliau sebelum menjadi Ratu.
Informasi mengenai Siti Aminah dari Bima ini lebih banyak ditemukan dalam Naskah Bo (catatan sejarah kuno Kerajaan Bima) yang dipadukan dengan tradisi lisan para "Guru" atau pemuka adat di Bima. Namun, detailnya seringkali dianggap rahasia (sirri) dan hanya diturunkan kepada kalangan tertentu.
Dalam naskah Bo (catatan resmi Kerajaan dan Kesultanan Bima), terdapat penyebutan mengenai putri-putri kerajaan yang memiliki peran spiritual penting. Siti Aminah diyakini sebagai salah satu putri dari silsilah bangsawan tinggi di Bima. Nama "Siti Aminah" sendiri menunjukkan identitas keislaman yang kental, yang mulai menguat sejak Bima menjadi kesultanan pada abad ke-17.
Narasi lokal menyebutkan bahwa Siti Aminah tidak "meninggal" secara umum, melainkan melakukan perjalanan spiritual ke arah barat (Jawa). Dalam banyak kepercayaan lokal, ia diyakini sebagai sosok yang sama dengan yang kemudian dihormati di Jawa sebagai penguasa laut selatan.
Di kalangan praktisi spiritual Jawa tertentu, nama Siti Aminah sering kali disebut sebagai "nama asli" atau "nama kemanusiaan" sang Ratu sebelum ia menjadi entitas gaib, yang menghubungkannya langsung dengan tanah Bima.
Sementara beberapa ritual pesisir di Bima masih sering menyebutkan doa atau penghormatan kepada leluhur yang "menjaga lautan," yang secara tidak langsung merujuk pada sosok Siti Aminah.
Hal ini menegaskan bahwa pengaruh budaya dan spiritual tokoh dari Bima mencapai wilayah yang sangat jauh, bahkan menjadi bagian inti dari mitologi Jawa. (***)
Dirangkum dari berbagai Sumber
Oleh Efen Ramecy

COMMENTS