Pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih dihadapkan pada persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan, yakni ketimpangan kualitas pendidikan pada jenjang SMA dan SMK antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Masalah ini terkait tata kelola guru yang belum tertata dengan baik.
Distribusi guru yang tidak merata menjadi akar persoalan yang paling nyata. Sekolah-sekolah di wilayah perkotaan relatif memiliki guru yang berkualitas, bahkan dalam beberapa kasus mengalami kelebihan pada mata pelajaran tertentu. Sebaliknya, sekolah di wilayah desa dan pelosok masih menghadapi keterbatasan guru yang berkualitas, terutama pada bidang studi spesifik.
Di lapangan, terdapat beberapa sekolah yang memiliki lebih dari satu guru untuk satu mata pelajaran dengan jumlah rombongan belajar yang terbatas, sementara di sekolah lain dalam mata pelajaran tertentu, satu guru harus merangkap mengajar beberapa kelas sekaligus atau kelebihan jam.
Jika mengacu pada rasio ideal guru dan siswa di jenjang pendidikan menengah yang berkisar antara 1:20 hingga 1:36, maka secara umum kebutuhan guru sebenarnya dapat dipetakan dengan cukup jelas. Namun dalam praktiknya, terdapat ketimpangan; di sebagian sekolah rasio tersebut bisa lebih kecil (menandakan kelebihan guru). Meskipun untuk mata pelajaran tertentu kekurangan guru teknis. Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan utama adalah soal kelebihan jumlah guru dan distribusi guru yang belum berbasis kebutuhan riil.
Secara estimatif, dengan melihat jumlah satuan pendidikan SMA dan SMK di NTB serta rata-rata rombongan belajar, kebutuhan guru seharusnya dapat ditekan lebih proporsional. Namun dalam praktiknya, terdapat indikasi bahwa jumlah guru pada beberapa bidang studi tertentu telah melampaui kebutuhan, sementara bidang lain, mungkin masih kekurangan.
Ketidakseimbangan ini tentu berdampak pada efisiensi anggaran daerah, khususnya dalam belanja pegawai yang selama ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam APBD.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kompetensi dan kualifikasi guru. Masih ditemukan praktik mengajar yang tidak sepenuhnya linear dengan latar belakang keilmuan, terutama di sekolah yang mengalami keterbatasan guru pada bidang tertentu. Di sisi lain, kebutuhan peningkatan kompetensi guru, baik melalui pelatihan maupun penguatan kapasitas berkelanjutan, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.
Dampaknya, kualitas pembelajaran menjadi tidak merata, dan siswa di wilayah tertentu tidak mendapatkan layanan pendidikan yang setara. Di sinilah urgensi penataan ulang guru menjadi tidak bisa ditawar lagi.
Penyesuaian jumlah dan distribusi guru secara tepat akan membuka ruang bagi pengelolaan anggaran yang lebih produktif. Anggaran yang tersedia dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan guru serta memperkuat program peningkatan kompetensi yang lebih terarah.
Kehadiran Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB Dr. Syamsul Hadi, M. Pd yang baru harus menjadi momentum pembenahan menyeluruh. Diperlukan langkah strategis yang terukur dan berbasis data, seperti pemetaan kebutuhan guru per sekolah, redistribusi tenaga pendidik secara proporsional, serta penataan beban kerja yang lebih adil. Selain itu, penguatan kompetensi guru, khususnya pada pendidikan kejuruan yang menuntut kesesuaian dengan kebutuhan dunia kerja, juga harus menjadi prioritas.
Tentu, upaya ini tidak lepas dari tantangan. Penataan ulang guru berpotensi menimbulkan resistensi, terutama karena menyangkut kenyamanan dan lokasi penugasan. Namun dengan pendekatan yang komunikatif, transparan, dan berkeadilan, langkah ini tetap dapat dijalankan secara bertahap dan berkelanjutan.
Inilah kado perdana bagi Kadis Dikpora NTB yang baru : sebuah harapan sekaligus dorongan untuk berani menata ulang guru demi menyelamatkan mutu pendidikan. Sebab hanya dengan tata kelola yang baik, pemerataan kualitas pendidikan dapat diwujudkan, dan generasi NTB dapat memperoleh layanan pendidikan yang lebih adil dan berkualitas. (***)
Dirilis oleh Damar Damhuji di akun Facebook.

COMMENTS