KOTA BIMA, TUPA NEWS.— Platform digital ini lahir dari kebutuhan menghadirkan ruang belajar bersama yang terintegrasi di tengah keterbatasan anggaran pengembangan kompetensi guru. Transformasi digital di sektor pendidikan Kota Bima memasuki babak baru. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Bima resmi meluncurkan “Jejak Guru”, sebuah platform digital yang dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan.
Peluncuran berlangsung di Ruma Dinning, Senin (01/09/2026), dihadiri para kepala sekolah SDN, SMP Negeri dan Swasta se-Kota Bima yang tergabung dalam komunitas belajar.
Platform ini digagas oleh Kasi PTK Dikdas Dinas Dikpora Kota Bima, Saprijal, SE, sebagai respons terhadap berbagai tantangan dalam pengembangan kompetensi guru.
Saprijal menjelaskan, lahirnya Jejak Guru tidak terlepas dari kondisi pengembangan kompetensi pendidik yang menghadapi keterbatasan kegiatan akibat efisiensi anggaran.
Di sisi lain, komunitas belajar yang telah terbentuk di berbagai satuan pendidikan masih berjalan secara parsial dan belum memiliki pusat data serta ruang kolaborasi yang terintegrasi. “Komunitas belajar masih parsial, belum terpusat, serta masih kurangnya budaya belajar bersama yang adaptif yang mampu menghubungkan jaringan dan saling menguatkan antarkomunitas,” jelas Saprijal.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan pendekatan baru yang tidak hanya mengandalkan kegiatan tatap muka, tetapi juga memanfaatkan teknologi digital sebagai ruang belajar yang dapat diakses dan dikembangkan secara berkelanjutan. "Jejak Guru bukan hanya sebuah sistem, tetapi fondasi transformasi pendidikan Kota Bima yang dibangun dari kolaborasi nyata antarpedidik," tegasnya.
Sementara itu, Kabid Dikdas Dinas Dikpora Kota Bima, Ahmad Yani, S. Pd. mengungkapkan bahwa hasil monitoring dan evaluasi terhadap komunitas belajar menunjukkan masih adanya persoalan dalam pengelolaan dan pemetaan aktivitas komunitas.
Salah satu persoalan utama adalah belum tersentralisasinya data. Akibatnya, dinas mengalami kesulitan melakukan pemantauan, evaluasi, hingga menyusun road map pengembangan komunitas belajar secara lebih terarah. “Identifikasi prestasi dan inovasi guru selama ini tidak bisa kita petakan secara real time, sehingga menyulitkan kita mendapatkan gambaran akurat tentang kondisi pembelajaran di lapangan,” ungkap Ahmad Yani.
Ia juga menyoroti belum tersedianya ruang kolaborasi digital yang berkelanjutan bagi guru untuk saling berinteraksi, berbagi pengalaman, dan belajar melampaui batas sekolah. "Belum terdapat ruang kolaborasi digital yang berkelanjutan yang memungkinkan guru berinteraksi dan belajar melampaui batas sekolah,” jelasnya.
Kehadiran Jejak Guru diharapkan mampu menjawab persoalan tersebut melalui integrasi data, dokumentasi aktivitas komunitas, serta ruang berbagi inovasi dan praktik baik antarguru.
Peluncuran Jejak Guru dipimpin langsung oleh Plt. Kepala Dinas Dikpora Kota Bima, Abdul Haris Kurniawan, S. IP., MM, didampingi Korwas Abdul Salam, M. Pd. serta unsur Dewan Pendidikan Kota Bima Drs. Moh. Yamin.
Dalam arahannya, Abdul Haris menekankan bahwa komunitas belajar tidak boleh berhenti pada aktivitas administratif maupun kegiatan seremonial.
Menurutnya, komunitas belajar harus menjadi ruang nyata untuk saling berbagi pengalaman, mengembangkan inovasi, dan menyebarluaskan praktik-praktik baik yang memberikan dampak terhadap pembelajaran.
Ia bahkan memberikan tantangan kepada seluruh satuan pendidikan agar mampu menunjukkan hasil nyata dari setiap program yang direncanakan. “Saya akan tantang sekolah dengan kerja nyatanya. Jangan hanya bagus dalam perencanaan dan presentasi, tetapi harus terlihat aksi nyata dan hasil yang diberikan untuk kemajuan pembelajaran di sekolah,” tegas Abdul Haris.
Peluncuran Jejak Guru bukan sekadar menghadirkan sebuah platform teknologi baru. Lebih jauh, inovasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang memungkinkan guru saling belajar, berbagi pengalaman, mendokumentasikan inovasi, serta memperluas praktik baik antarsatuan pendidikan.
Dengan adanya platform tersebut, perjalanan dan kontribusi guru diharapkan tidak berhenti sebagai aktivitas yang tersimpan di lingkungan sekolah masing-masing, tetapi dapat menjadi jejak pengetahuan dan praktik baik yang dapat dipelajari serta dikembangkan oleh guru lainnya.
Dinas Dikpora Kota Bima berharap Jejak Guru menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat komunitas belajar sekaligus mendorong lahirnya budaya kolaborasi yang lebih adaptif. (***) Narator/desain : sekon

COMMENTS