![]() |
| Foto Kepala SMPN 14 Kota Bima Fris Wahyuddin. |
KOTA BIMA, TUPA NEWS.— Di sebuah sudut sunyi Kelurahan Rabadompu Timur, Kecamatan Raba, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang selama bertahun-tahun luput dari peta sekolah favorit. SMP Negeri 14 Kota Bima namanya. Dengan daya tampung ekstrem yang hanya menyentuh 88 siswa, sekolah ini sempat berjalan statis di tengah himpitan keterbatasan sarana, minimnya anggaran BOSP, dan realitas sosiologis siswa yang rentan, mulai dari masalah ekonomi, keluarga yang retak (broken home), hingga problem literasi dasar.
Namun, di balik tembok-tembok kusam itu, sebuah gerakan bawah tanah yang sistematis tengah dirancang. Penelusuran mendalam terhadap dokumen Best Practice bertajuk "Memeluk Keterbatasan dan Menggerakkan Perubahan".
Menyingkap bagaimana sang nahkoda, Fris Wahyuddin, S. Pd., M. Si secara radikal membalikkan keadaan. Kini, nama Fris Wahyuddin bukan lagi sekadar nama kepala sekolah pinggiran; ia resmi mendobrak dominasi nasional dengan menembus 20 Terbaik Seleksi Nasional Calon Kepala Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Tahun 2026.
Optimisme Fris Wahyuddin untuk membawa harum nama NTB di kancah nasional bukanlah klaim tanpa dasar, melainkan sebuah konklusi logis dari portofolio yang solid. Namun, sebuah gerakan transformatif di tingkat nasional tidak dapat berjalan secara soliter. "Seorang pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa megah sekolah tempat ia bertugas, melainkan dari seberapa besar komitmennya untuk memeluk keterbatasan," tegas Fris.
Memanfaatkan latar belakang Magister Ilmu Sosial Politik konsentrasi Otonomi Daerah dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan hasil yang sangat mencengangkan. SMPN 14 Kota Bima saat ini resmi ditetapkan sebagai sekolah penerima bantuan finansial struktural Revitalisasi Tahun 2026.
Lompatan ini memastikan 88 siswa di sudut Kota Bima saat ini segera menikmati sarana modern yang setara dengan sekolah-sekolah besar di pusat kota. Dampak dari penetrasi metode ini sangat menyentuh aspek esensial, anak-anak inklusif dan siswa yang awalnya belum lancar membaca, secara bertahap mengalami peningkatan kemampuan literasi yang terukur.
Sekolah ini pun dianugerahi Penghargaan Sekolah Aktif dan Pendukung Literasi tahun 2026 oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. Kini, bola panas berada di tangan para pemangku kebijakan daerah. Atensi, keberpihakan, dan dukungan penuh dari Dinas Dikpora, Pemerintah Kota Bima, hingga Pemerintah Provinsi NTB sangat dinantikan.
Mengawal Fris Wahyuddin di panggung Nasional bukan lagi sekadar mendukung satu individu, melainkan sebuah pertaruhan harga diri untuk membuktikan bahwa inovasi pendidikan terbaik Indonesia justru lahir dari rahim keterbatasan di sudut Kota Bima.
Namun, perjuangan di tingkat Nasional ini membutuhkan dorongan kolektif. Dukungan moral, kebijakan, serta apresiasi dari Pemerintah Kota Bima, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dikpora), hingga Pemerintah Provinsi NTB menjadi instrumen krusial agar momentum emas ini dapat terkonversi menjadi kemenangan mutlak untuk nama baik daerah. (TN - 02)

COMMENTS