![]() |
| Foto keadaan Indonesia aat jaman penjajahan. |
Narasi bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun sering kita dengar sejak bangku sekolah. Angka itu terdengar mutlak, seolah seluruh wilayah Nusantara tunduk pada penjajahan sejak awal abad ke-17 hingga 1945. Namun, sejarah berbicara lebih kompleks dari itu.
Angka 350 tahun berasal dari kedatangan VOC Belanda pada 1602, bukan penjajahan terhadap seluruh Indonesia. Pada masa itu, Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan berdaulat seperti Mataram, Aceh, Banten, Gowa, Ternate, dan Tidore. VOC hanyalah perusahaan dagang yang perlahan memperluas pengaruhnya melalui monopoli, perjanjian paksa, dan perang.
Faktanya, setiap daerah di Indonesia mengalami penjajahan pada waktu yang berbeda-beda. Pulau Jawa baru benar-benar berada di bawah kendali kolonial Belanda secara penuh pada abad ke-19, terutama setelah Perang Diponegoro berakhir tahun 1830. Aceh bahkan baru dapat ditaklukkan secara administratif pada awal abad ke-20, setelah perang panjang dan berdarah sejak 1873.
Di Bali, kerajaan-kerajaan masih berdiri hingga awal 1900-an, sebelum Belanda menaklukkannya melalui ekspedisi militer yang memicu tragedi puputan. Di Papua, kekuasaan Belanda baru efektif berjalan menjelang tahun 1930-an. Artinya, bagi sebagian wilayah Nusantara, penjajahan berlangsung kurang dari 50 tahun.
Lebih jauh lagi, ada wilayah-wilayah yang tidak pernah sepenuhnya dijajah secara langsung, melainkan berada dalam pengaruh politik atau ekonomi kolonial tanpa pendudukan militer penuh. Beberapa kerajaan tetap mempertahankan otonomi internalnya, meskipun berada dalam bayang-bayang kekuasaan kolonial.
Maka, menyebut Indonesia dijajah 350 tahun adalah penyederhanaan sejarah. Yang benar, penjajahan di Nusantara terjadi secara bertahap, tidak merata, dan penuh perlawanan. Bangsa ini tidak pernah benar-benar pasrah dijajah; perlawanan selalu ada, dari perang besar hingga gerakan intelektual dan diplomasi.
Memahami fakta ini penting, agar kita tidak mewarisi narasi yang keliru. Sejarah Indonesia bukanlah kisah bangsa yang dijajah berabad-abad tanpa daya, melainkan kisah panjang perlawanan, martabat, dan perjuangan menuju kemerdekaan. (***)

COMMENTS