![]() |
| SDN 51 Rite. |
![]() |
| Foto Penulis : Emi Suryani, S. Pd |
Kamis (16/04/2026) pagi, langkahku terasa berat. Dimana 7 tahun aku jaga sekolah itu (SDN 51 Rite Kota Bima) yang merupakan sekolah satu-satunya di kampungku sendiri. Dari yang dulu sepi jadi ramai, dari yang biasa jadi bagus, aku rawat dengan hati, karena murid-muridnya adalah anak-anak tetanggaku sendiri.
Tapi hari ini aku harus lewati gerbang itu sebagai orang lain. Bukan lagi sebagai kepala sekolah (saat itu) maupun sebagai guru. Kini aku hanya sebagai guru biasa yang dipindah ke sekolah lain (SDN 67 Rabantala Kota Bima).
Katanya aku tidak disiplin kerja, dan disebut terlibat politik praktis di kampung. Namun aku terima keputusannya, meski hatiku hancur.
Pagi ini rute ke sekolah baruku harus melewati jalan depan sekolah lamaku. Tiap jengkal jalan itu menyimpan kenangan. Di situ aku dulu berdiri menyambut anak-anak tiap pagi. Di situ aku dulu hujan-hujanan betulin genteng yang bocor. Di situ aku dulu rapat sampai malam demi kemajuan sekolah.
Sekarang aku hanya bisa lewat, menunduk, menahan air mata. Rasanya seperti pulang ke rumah tapi tidak boleh masuk.
Aku tidak minta dikasihani. Aku cuma ingin cerita. Bahwa jatuh itu sakit, apalagi jatuh di tanah yang dulu kita bangun sendiri.
Tapi aku percaya, Allah tidak tidur. Kalau hari ini aku diturunkan, mungkin besok aku diajarkan caranya lebih ikhlas. Doakan aku kuat ya. Karena mulai hari ini, aku harus belajar jadi guru lagi, di tempat baru, dengan hati yang masih tertinggal di sekolah lama. (***)


COMMENTS