![]() |
| Nampak bangunan perpustakaan yang disulap jadi ruang guru dan kantor |
KOTA BIMA, TUPA NEWS.— Keterbatasan fasilitas dan aksesibilitas masih menjadi tantangan nyata bagi dunia pendidikan di wilayah pelosok Kota Bima. Kondisi memprihatinkan ini dialami oleh SDN 66 Kuta Kota Bima, sebuah sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1981 dan kini dipimpin oleh Arsid, S. Pd. sebagai Kepala Sekolah ke-10.
Saat ini, sekolah tersebut hanya memiliki total 33 siswa yang terbagi dalam 6 Rombongan Belajar (Rombel). Uniknya, komposisi siswa per kelas sangat minim. Di kelas 6, jumlah murid bahkan hanya 2 orang, sementara kelas lainnya berkisar antara beberapa orang hingga belasan siswa saja.
Di sisi lain, jumlah Tenaga Pendidik dan Kependidikan (Tendik) di sekolah ini justru terbilang cukup banyak, yakni 23 orang. Komposisi tersebut terdiri dari 2 ASN (Kepala Sekolah dan Guru Agama Islam), 9 orang PPPK, 9 orang PW, serta 3 orang tenaga kependidikan.
Sekolah yang terbilang serba terbatas ini, baik kelas diisi bergantian, Kantor 'Numpang' di Perpustakaan dan pagar keliling sekolah dibagian Selatan dan Timur hanya beralaskan bambu (layaknya) seperti pagar kebun dihutan maupun diladang sawah
Selain masalah ketimpangan rasio siswa dan guru, infrastruktur di SDN 66 Kuta juga jauh dari kata memadai. Sekolah ini hanya memiliki 5 ruang kelas, sehingga proses belajar-mengajar untuk kelas 2 dan kelas 3 harus berbagi ruangan (sekat/pembagian shift).
Tidak Ada Ruang Guru dan ruangan Kepala Sekolah, sehingga pihak sekolah terpaksa memanfaatkan ruang perpustakaan untuk difungsikan sebagai ruang guru sekaligus kantor Kepala Sekolah.
![]() |
| Terlihat parit dari pemukiman warga Kuta menuju Sungai Nungga, yang bisa dijadikan jalan alternatif dengan cara cor dibagian atas. |
![]() |
| Nampak pagar sekolah di bagain Selatan dan Timur beralaskan bambu |
Sekolah ini belum memiliki fasilitas kesehatan dasar untuk siswa, seperti (UKS). Selanjutnya jaringan Internet Minim, meski telah menerima bantuan Jaringan Bukti Aksi dari Kominfo, sinyalnya kerap tidak memadai. Saat ujian berlangsung, jaringan tidak dapat menjangkau perangkat siswa sehingga sekolah harus meminjam jaringan dari luar.
Minim Fasilitas Chromebook: Di era Kurikulum Merdeka ini, sekolah tersebut baru menerima bantuan tahap pertama berupa 3 unit Chromebook merek Dell. Belum lagi akses jalan melingkar dan harapan adanya jembatan alternatif. Lokasi sekolah yang berada di wilayah terpencil Lingkungan Kuta (RT 07 RW 03) Kelurahan Nungga—dengan pemukiman warga yang hanya sekitar 45 KK—membuat akses mobilitas menjadi tantangan harian.
Para guru yang berdomisili dari arah Timur maupun Barat Kota Bima harus menempuh perjalanan memutar selama 20 hingga 30 menit dari pusat kota, baik melalui jalur Nungga maupun Penanae–Kendo.
Bahkan untuk keperluan ibadah seperti Salat Jumat berjamaah, warga masyarakat disekitar sekolah harus berjalan kaki sejauh hampir 250 meter menuju pusat Kelurahan Nungga.
Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah dan masyarakat sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah untuk membangun jalan alternatif atau jembatan potong menyeberangi sungai di bagian Selatan sekolah menuju Kelurahan Nungga.
Akses jalan baru ini diharapkan tidak hanya memotong jarak tempuh para guru dan siswa, tetapi juga membuka aksesibilitas warga masyarakat sekitar agar SDN 66 Kuta supaya tidak lagi terisolasi. (TN - 01)



COMMENTS