OPINI
Oleh : Dr. Muhammad Hasyim, S.Sos, SH, M.Ec.Dev.
Dunia pendidikan saat ini tengah menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan multidimensional. Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kualitas akademik, penguasaan teknologi, serta daya saing global, tetapi juga menyentuh persoalan mendasar tentang krisis nilai dan karakter generasi muda. Berbagai peristiwa sosial yang terjadi akhir-akhir ini—mulai dari menurunnya etika pergaulan, meningkatnya perilaku intoleran, hingga lemahnya rasa tanggung jawab dan empati—menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan untuk kembali menegaskan perannya sebagai benteng pembentukan karakter moral peserta didik.
Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebuah ikhtiar membentuk manusia seutuhnya. Dalam konteks ini, pembinaan karakter moral menempati posisi yang sangat strategis. Karakter menjadi fondasi utama yang menentukan bagaimana ilmu pengetahuan digunakan, bagaimana kecerdasan diarahkan, dan bagaimana peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya. Tanpa karakter yang kuat, kecerdasan intelektual berpotensi kehilangan nilai, bahkan dapat menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan sosial dan kebangsaan.
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi, peserta didik dihadapkan pada berbagai pengaruh eksternal yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa. Media digital dan media sosial, misalnya, menawarkan kemudahan akses informasi, namun sekaligus membawa risiko lunturnya batasan moral jika tidak diimbangi dengan pendidikan karakter yang kuat. Dalam situasi inilah sekolah dituntut untuk tidak hanya menjadi pusat pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi ruang aman dan kondusif bagi penanaman nilai-nilai moral, etika, dan kebajikan.
Berbagai satuan pendidikan telah berupaya memperkuat pembinaan karakter melalui beragam program pembiasaan positif. Budaya disiplin, kejujuran, kerja sama, toleransi, kepedulian sosial, serta sikap saling menghormati terus ditanamkan dan diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran. Tidak hanya melalui mata pelajaran tertentu, pendidikan karakter juga diwujudkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, tata tertib sekolah, interaksi keseharian, hingga cara sekolah membangun iklim yang humanis dan inklusif. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak bersifat parsial, melainkan harus menjadi jiwa dari seluruh aktivitas pendidikan.
Dalam hal ini, ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan ruh dari sistem pendidikan nasional. Keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur semata-mata dari nilai rapor, hasil ujian, atau prestasi kompetisi akademik. Lebih dari itu, ukuran keberhasilan pendidikan terletak pada sejauh mana peserta didik mampu menampilkan perilaku bermoral dalam kehidupan sehari-hari—baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Sekolah idealnya menjadi ruang pembentukan kepribadian, tempat siswa belajar tentang makna kejujuran, tanggung jawab, empati, keadilan, serta nilai-nilai kebangsaan yang berakar pada jati diri bangsa.
Peran guru dalam proses pembinaan karakter moral siswa tidak dapat dipisahkan. Guru bukan hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai figur teladan yang perilaku dan sikapnya akan direkam dan ditiru oleh peserta didik. Keteladanan guru dalam bersikap disiplin, adil, santun, dan berintegritas merupakan bentuk pendidikan karakter yang paling nyata dan efektif. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pendidikan, khususnya pendidik, harus menjadi perhatian serius. Guru yang berkarakter kuat akan melahirkan peserta didik yang berkarakter pula.
Namun demikian, pendidikan karakter tidak akan berjalan optimal jika hanya dibebankan kepada sekolah. Diperlukan kolaborasi yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai tiga pilar utama pendidikan. Keluarga memiliki peran awal dan fundamental dalam membentuk nilai moral anak, sementara masyarakat menjadi ruang praktik nyata bagi nilai-nilai yang telah dipelajari di sekolah. Sinergi ketiga unsur ini menjadi kunci agar pembinaan karakter moral siswa tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa dukungan orang tua dan lingkungan sosial yang kondusif, upaya sekolah dalam menanamkan nilai moral akan menghadapi banyak hambatan.
Pada akhirnya, penguatan pembinaan karakter moral siswa harus dilakukan secara terarah, sistematis, dan berkelanjutan. Dunia pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Generasi dengan karakter yang kuat akan memiliki integritas, ketangguhan moral, serta kepedulian sosial yang tinggi. Dengan bekal tersebut, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berdaya saing, bermartabat, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa serta kemajuan peradaban di masa depan. (***)
Penulis : saat ini menjabat sebagai Kepala Komuinfotik Kota Bima.

COMMENTS