![]() |
| Nampak para siswa SDN 59 Rasalewi saat menulis (mengisi) shalat yang mereka kerjakan selama dirumah masing-masing. |
Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual. Salah satu bentuk pembiasaan yang penting bagi peserta didik yang beragama Islam adalah membiasakan diri melaksanakan shalat lima waktu secara tertib dan berkesinambungan.
Shalat lima waktu merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pada usia sekolah dasar, masih terdapat peserta didik yang belum melaksanakan shalat lima waktu secara konsisten.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kondisi tersebut antara lain kurangnya pengawasan, kesibukan anak, lingkungan, kebiasaan di rumah, serta belum adanya sistem pemantauan sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan antara sekolah dan orang tua.
Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan sebuah inovasi yang sederhana, mudah diterapkan, tidak membutuhkan teknologi yang rumit, tetapi mampu menumbuhkan kesadaran dan kejujuran peserta didik dalam melaksanakan shalat lima waktu.
Oleh karena itu, saya selaku guru kelas VA SDN 59 Rasalewi Kota Bima mengembangkan inovasi “Caha Shalawat”, yaitu Catatan Harian Shalat Lima Waktu. Inovasi ini berupa lembar catatan berwarna yang ditempelkan pada papan inovasi yang disediakan di dalam kelas. Setiap peserta didik mencatat pelaksanaan shalat lima waktu yang telah dilakukan dalam sehari semalam secara jujur.
”Caha Shalawat” tidak dimaksudkan sebagai alat untuk menghukum peserta didik yang belum melaksanakan shalat secara lengkap, tetapi sebagai sarana pemantauan, pembiasaan, refleksi, motivasi, dan pendidikan kejujuran. Guru melakukan pemantauan di sekolah dan berkolaborasi dengan wali murid untuk mendampingi serta mengawasi pelaksanaan shalat peserta didik di rumah.
Melalui inovasi ini diharapkan terjalin sinergi antara sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua dalam membangun kebiasaan positif. Dengan demikian, pelaksanaan shalat lima waktu tidak hanya menjadi kegiatan yang dipantau, tetapi secara bertahap menjadi kebutuhan dan kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran diri peserta didik.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan kondisi yang ditemukan, beberapa permasalahan yang menjadi dasar pelaksanaan inovasi “Caha Shalawat” adalah:
- Belum semua peserta didik melaksanakan shalat lima waktu secara konsisten.
- Guru memiliki keterbatasan dalam memantau pelaksanaan shalat peserta didik ketika berada di rumah.
- Belum terdapat media sederhana yang dapat digunakan untuk mencatat kebiasaan shalat peserta didik secara rutin.
- Komunikasi antara guru dan wali murid dalam memantau kebiasaan ibadah peserta didik perlu ditingkatkan.
- Peserta didik perlu dibiasakan untuk memiliki sikap jujur terhadap diri sendiri, termasuk dalam melaporkan pelaksanaan shalat.
Tujuan
1. Membiasakan peserta didik melaksanakan shalat lima waktu.
2. Meningkatkan kedisiplinan peserta didik dalam menjalankan ibadah.
3. Menanamkan nilai kejujuran melalui pencatatan pelaksanaan shalat secara mandiri.
4. Melatih peserta didik bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
5. Membantu guru mengetahui perkembangan kebiasaan shalat peserta didik.
6. Meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pembentukan karakter religius anak.
7. Membangun komunikasi dan kolaborasi antara guru dan wali murid.
8. Memberikan motivasi kepada peserta didik untuk meningkatkan konsistensi pelaksanaan shalat lima waktu.
Manfaat :
1. Bagi Peserta Didik
- Membentuk kebiasaan melaksanakan shalat lima waktu.
- Meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab.
- Melatih kejujuran dalam mencatat kegiatan sehari-hari.
- Menumbuhkan kesadaran bahwa shalat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan.
- Memberikan motivasi untuk memperbaiki jumlah dan keteraturan shalat.
- Memudahkan pemantauan kebiasaan ibadah peserta didik.
- Menjadi bahan evaluasi pembinaan karakter religius.
- Memperkuat hubungan dan komunikasi dengan wali murid.
- Menjadi salah satu inovasi pembiasaan positif di kelas.
- Membantu orang tua memantau kebiasaan shalat anak.
- Meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan karakter anak.
- Memperkuat komunikasi dengan guru.
- Mendorong terciptanya pembiasaan ibadah di lingkungan keluarga.
- Mendukung penguatan karakter religius peserta didik.
- Menjadi contoh inovasi sederhana yang dapat dikembangkan di kelas lain.
- Menciptakan budaya sekolah yang mendukung pembentukan karakter dan kedisiplinan.
- Memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga.
Dalam konteks sekolah dasar, pembentukan karakter perlu dilakukan melalui kegiatan sederhana dan berulang. Pembiasaan melaksanakan shalat lima waktu dapat menjadi salah satu sarana untuk menanamkan nilai religius, disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran.
Pembiasaan Shalat Lima Waktu
Shalat lima waktu merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Pembiasaan shalat sejak usia sekolah dasar penting dilakukan dengan pendekatan yang mendidik dan sesuai dengan perkembangan anak.
Pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus diharapkan dapat membentuk perilaku yang lebih konsisten. Oleh karena itu, pemantauan pelaksanaan shalat perlu dilakukan bukan hanya di sekolah, tetapi juga melalui dukungan keluarga.
Kejujuran dalam Pendidikan
Kejujuran merupakan salah satu nilai karakter yang penting ditanamkan kepada peserta didik. Dalam inovasi “Caha Shalawat”, peserta didik diberi kepercayaan untuk mencatat sendiri shalat yang telah dilaksanakan.
Pencatatan tersebut harus dilakukan dengan prinsip jujur dan bertanggung jawab. Guru tidak hanya melihat jumlah shalat yang dilaksanakan, tetapi juga memberikan pemahaman bahwa kejujuran lebih penting daripada sekadar mendapatkan catatan yang sempurna.
Dengan demikian, lembar “Caha Shalawat” berfungsi sebagai media pembentukan karakter, bukan sebagai alat untuk mempermalukan atau memberikan hukuman.
Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua
Pendidikan peserta didik merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga. Guru memiliki peran dalam mendidik dan membimbing peserta didik disekolah, sedangkan orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak di rumah.
Kolaborasi antara guru dan wali murid dalam “Caha Shalawat” dilakukan melalui komunikasi dan pemantauan secara berkala. Orang tua membantu mengingatkan dan mendampingi anak, sedangkan guru memberikan motivasi, mengevaluasi perkembangan, dan memberikan tindak lanjut.
Konsep Inovasi CAHA SHALAWAT
“Caha Shalawat” merupakan singkatan dari Catatan Harian Shalat Lima Waktu. Konsep dasar inovasi ini adalah :
Mengingatkan → Melaksanakan → Mencatat → Memantau → Mengevaluasi → Membiasakan.
Setiap peserta didik memiliki lembar catatan atau kartu “Caha Shalawat” yang masih kosong (tanpa coretan). Dalam lembar tersebut peserta didik akan menulis sendiri shalat yang mereka kerjakan. Jika mereka melaksanakan 5 waktu full maka mereka harus menulis pada lembar kosong tersebut subuh, dzuhur, ashar, magrib, isya.
Jika dalam sehari mereka hanya shalat 2x maka mereka hanya mengisi shalat yang mereka kerjakan seperti subuh dan magrib misalnya. Begitu seterusnya. Tapi jika peserta didik tidak melaksanakan shalat sama sekali pada hari tersebut, maka mereka akan mengosongkan atau menulis tanda minus pada lembaran tersebut. Pengisian dilakukan setiap hari secara jujur.
Lembar tersebut ditempatkan pada media yang telah disediakan di dalam kelas. Guru melakukan pemantauan secara berkala. Untuk pelaksanaan di rumah, orang tua membantu mengingatkan dan mendampingi anak.
Sistem ini diharapkan menciptakan suasana yang positif. Peserta didik tidak dibandingkan berdasarkan jumlah shalatnya, tetapi diarahkan untuk membandingkan perkembangan dirinya dari waktu ke waktu.
PELAKSANAAN INOVASI - PROSEDUR PELAKSANAA INOVASI
Identifikasi Masalah dan Peluang
Tahap pertama adalah mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan kebiasaan shalat peserta didik kelas V-A.
Identifikasi dilakukan melalui: Pengamatan guru terhadap kebiasaan peserta didik, percakapan dengan peserta didik, komunikasi dengan wali murid, pengamatan terhadap kedisiplinan peserta didik, serta identifikasi kebutuhan media pemantauan yang sederhana.
Dari identifikasi tersebut ditemukan peluang untuk membuat media sederhana berupa catatan harian yang dapat digunakan peserta didik dan dipantau bersama oleh guru dan orang tua.
Riset dan Analisis
Pada tahap ini guru melakukan pengkajian terhadap pentingnya pembiasaan shalat sejak usia sekolah dasar, pentingnya pendidikan karakter religius, pentingnya kejujuran dalam pencatatan, kebutuhan komunikasi antara guru dan orang tua, media yang mudah, murah, dan dapat digunakan secara rutin.
Hasil analisis menunjukkan bahwa inovasi berbasis kertas berwarna relatif mudah dilaksanakan, tidak membutuhkan perangkat elektronik, dan dapat langsung digunakan di kelas.
Tim Inovasi
Pelaksanaan “Caha Shalawat”
melibatkan beberapa pihak.
|
No. |
Unsur |
Peran |
|
1 |
Kepala Sekolah |
Memberikan dukungan dan supervisi |
|
2 |
Guru Kelas
VA |
Koordinator dan pelaksana inovasi |
|
3 |
Guru Pendidikan Agama Islam |
Memberikan penguatan keagamaan |
|
4 |
Peserta Didik |
Melaksanakan dan mengisi catatan dengan jujur |
|
5 |
Wali Murid |
Mendampingi dan memantau pelaksanaan di rumah |
|
6 |
Tim Sekolah |
Membantu evaluasi dan
pengembangan inovasi |
Pengembangan Prototipe
Prototipe awal “Caha Shalawat” dibuat dalam bentuk lembar kertas berwarna. Kertas tersebut ditempel pada papan yang sudah disiapkan di dalam kelas. Lembar kertas tersebut dibiarkan kosong untuk setiap peserta didik, yang nantinya akan diisi oleh siswa sesuai dengan shalat yang mereka kerjakan.
Pengujian dan Evaluasi
Prototipe diuji coba dalam skala kelas yaitu kelas V dan VI.
Berdasarkan hasil uji coba, lembar “Caha Shalawat” disempurnakan.
Pengembangan final meliputi penyederhanaan format, penambahan petunjuk pengisian, penggunaan kertas berwarna yang menarik, penambahan kolom refleksi, penambahan ruang paraf/pemantauan orang tua apabila diperlukan, serta penyusunan rekapitulasi mingguan dan bulanan.
Pelaksanaan
Pelaksanaan inovasi dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu sosialisasi, pembuatan papan inovasi, pelaksanaan pencatatan, pemantauan oleh guru (inovator),kolaborasi dengan orang tua, dan juga refleksi.
Evaluasi Berkelanjutan
Evaluasi dilakukan secara berkala, meliputi evaluasi harian, mingguan, bulanan, dan evaluasi akhir periode pelaksanaan.
Indikator Keberhasilan
1. Minimal 90% peserta didik mengisi catatan secara rutin.
2. Terjadi peningkatan konsistensi pelaksanaan shalat lima waktu.
3. Peserta didik mampu mengisi catatan secara jujur.
4. Orang tua terlibat dalam pemantauan kegiatan.
5. Terjalin komunikasi yang baik antara guru dan wali murid.
6. Peserta didik menunjukkan peningkatan kedisiplinan dan tanggung jawab

COMMENTS