![]() |
| Terlihat Fatimah (Kepala SDN 2 Suntu) saat pembimbing KIPPRAH untuk berdialog dengan siswa lainnya dipintu gerbang. |
![]() |
| Tim KIPPRAH mengenakan seragam (Rompi) selaku kader Inovatif Penegak Aturan dan Harmon. |
KOTA BIMA, TUPA NEWS.— Dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan bebas perundungan (bullying), SDN 2 Suntu Kota Bima menghadirkan sebuah terobosan inovasi bernama KIPPRAH (Kader Inovatif Penegak Aturan dan Harmoni). Program ini secara resmi diluncurkan sebagai bentuk keseriusan pihak sekolah dalam memperkuat pendidikan karakter dan tata tertib yang humanis sejak sekolah dasar, serta disiapkan untuk berkompetisi dalam ajang Inovasi Daerah Kota Bima.
Kehadiran KIPPRAH tidak muncul secara tiba-tiba. Inovasi ini digagas sebagai respons atas pola penegakan disiplin konvensional di sekolah dasar yang umumnya bersifat satu arah, di mana guru selalu menjadi penindak dan siswa sebagai objek aturan.
Menurut pihak SDN 2 Suntu Kota Bima, pendekatan konvensional kerap membuat siswa memandang tata tertib sebagai sebuah ancaman sanksi, bukan kesadaran dari dalam diri. Hal ini juga berpotensi menyisakan ruang-ruang tak terpantau, terutama terkait dinamika pergaulan antar siswa yang berujung pada pelanggaran ringan hingga potensi perundungan.
Melalui KIPPRAH, SDN 2 Suntu Kota Bima membalikkan pendekatan tersebut dengan memberdayakan siswa itu sendiri sebagai agen perubahan. Sekolah membentuk tim khusus yang terdiri dari siswa-siswa pilihan untuk menjadi teladan (role model), mediator, dan penggerak budaya positif di kalangan teman sebayanya. "Kami ingin disiplin itu tumbuh dari kesadaran, bukan ketakutan. Kader KIPPRAH bertugas untuk menegur teman sebaya yang melanggar aturan dengan cara yang santun, komunikatif, dan tidak bersifat menghukum. Mereka menjadi garda terdepan untuk mencegah perselisihan antar siswa sebelum membesar," jelas inovator SDN 2 Suntu Kota Bima Hairunisa, M. Pd.
Lebih dari sekadar akronim, kata "KIPPRAH" bermakna jejak nyata para kader dalam membawa dampak positif. Program ini bertumpu pada tiga pilar utama: pendekatan yang edukatif dan persuasif, pencegahan konflik (harmoni), serta integrasi nilai budaya lokal Bima “Maja Labo Dahu” yang memiliki arti malu berbuat salah dan takut melanggar norma agama/sosial. Nilai luhur ini ditanamkan kuat dalam diri para kader dan dikampanyekan secara masif di lingkungan sekolah.
Dengan penanaman filosofi ini, diharapkan siswa SDN 2 Suntu Kota Bima memiliki 'rem otomatis' dalam bertindak, sehingga tidak hanya patuh pada aturan sekolah, tetapi juga saling menghormati dan menjaga persaudaraan.
Ke depannya, KIPPRAH diharapkan tidak hanya sukses mewujudkan ekosistem SDN 2 Suntu Kota Bima yang tertib, harmonis, dan ramah anak, tetapi juga mampu menjadi percontohan (role model) program disiplin positif bagi sekolah-sekolah dasar lainnya di Kota Bima dan sekitarnya. (TN - 03)


COMMENTS